Daftar Provinsi di indonesia dan ibukotanya
- Provinsi Nanggro Aceh Darussalam : Banda Aceh
- Provinsi Sumatera Utara : Medan
- Provinsi Sumatera Barat : Padang
- Provinsi Riau : Pekan Baru
- Provinsi Kepulauan Riau : Tanjung Pinang
- Provinsi Jambi : Jambi
- Provinsi Sumatera Selatan : Palembang
- Provinsi Bangka Belitung : Pangkal Pinang
- Provinsi Bengkulu : Bengkulu
- Provinsi Lampung : Bandar Lampung
- Provinsi DKI Jakarta : Jakarta
- Provinsi Jawa Barat : Bandung
- Provinsi Banten : Serang
- Provinsi Jawa Tengah : Semarang
- Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta : Yogyakarta
- Provinsi Jawa Timur : Surabaya
- Provinsi Bali : Denpasar
- Provinsi Nusa Tenggara Barat : Mataram
- Provinsi Nusa Tenggara Timur : Kupang
- Provinsi Kalimantan Barat : Pontianak
- Provinsi Kalimantan Tengah : Palangkaraya
- Provinsi Kalimantan Selatan : Banjarmasin
- Provinsi Kalimantan Timur : Samarinda
- Provinsi Sulawesi Utara : Manado
- Provinsi Gorontalo : Gorontalo
- Provinsi Sulawesi Tengah : Palu
- Provinsi Sulawesi Tenggara : Kendari
- Provinsi Sulawesi Selatan : Makassar
- Provinsi Sulawesi Barat : Mamuju *
- Provinsi Maluku : Ambon
- Provinsi Maluku Utara : Ternate
- Provinsi Papua Barat : Manokwari
- Provinsi Papua : Jayapura
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
N
Berdasarkan
Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang
Nomor 22 Tahun 1948.

Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.
ama Resmi | : | Propinsi Kepulauan Bangka Belitung |
Ibukota | : | Pangkal Pinang |
Luas Wilayah | : | 16.424,06 Km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 1.250.554 jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Suku Melayu (suku bangsa asli), Jawa, Sunda , Bugis, Banten, Banjar, Madura, Palembang, Minang, Aceh, Flores,Maluku, Manado dan Cina(30%) |
Agama | : | Islam : 81,83%, Budha : 8,71 %, Kong Hu Cu : 5,11 %, Kristen : 2,44%, Kristen Katolik : 1.79%, dan Hindu : 0,13% |
Wilayah Administrasi Website | : : | Kab.: 6, Kota : 1, Kec.: 44, Kel.: 61, Desa : 300 *) http://www.babelprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti ganti menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya, dan Majapahit.
Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai Duke of Island.
20
Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus
1824, terjadi perlalihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka
Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K.Hcyes (Belanda) di Mentok
pada 10 Desember 1816.
Kekuasaan
Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang
di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851).
Kekalahan perang Depati Amir menyebabkan Depati Amir di asingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT.
Atas
dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di
bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin
seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin
oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang
akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1
Karesidenan.
Di zaman Jepang Karesidenan Bangka Belitung di perintah oleh pemerintahan Militer Jepang yang disebut Bangka Beliton Ginseibu.
Setelah
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda di bentuk Dewan
Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang
selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang diketuai oleh Musarif Datuk
Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947.
Dewan Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi.
Pada
23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan
Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI)
yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat
(RIS).
Pada
tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka
Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan
oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan.
Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R.Soemardja yang berkedudukan
di Pangkalpinang.
Berdasarkan
UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16
November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan
yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang.
Berdasarkan
UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13
Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota
Kabupaten Bangka.
Berdasarkan
UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan
Kabupaten Belitung menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Propinsi Kepualauan Bangka
Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru
yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka
Selatan.
Arti Logo

Perisai Bersudut Lima, melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kepulauan Bangka Belitung, melambangkan wilayah, masyarakat, sistem pemerintah, kebudayaan dan sumberdaya alam Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Lingkaran Bulat Simetrikal,
melambangkan kesatuan dan persatuan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
dalam menghadapi segala tantangan di tengah - tengah peradaban dunia
yang semakin terbuka.
Butir Padi berjumlah 27 buah melambangkan nomor dari Undang-undang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu UU No.27 Tahun 2000,dan Buah Lada, berjumlah 31 buah melambangkan Kepulauan Bangka Belitung merupakan Propinsi ke 31 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padi dan buah lada juga melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.
Balok Timah,
melambangkan kekayaan alam (hasil bumi pokok) berupa timah yang dalam
sejarah secara social ekonomis telah menopang kehidupan masyarakat
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung selama lebih dari 300 tahun.
(diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 Mary Schommers dalam Bangka
Tin)
Biru Tua dan Biru Muda (Dalam Perisai dan Lingkaran Hitam), melambangkan
bahari dunia kelautan dari yang dangkal sampai yang terdalam.
Menyiratkan lautan dengan segala kekayaan alam yang ada di atasnya, di
dalam dan di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar -
besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
Putih (Tulisan), melambangkan keteguhan dan perdamaian.
Kuning ( Padi dan Semboyan), melambangkan ketentraman dan kekuatan.
Hijau (Pulau dan Lada), melambangkan kesuburan.
Hitam (Outline Lingkaran), melambangkan ketegasan.
Serumpun Sebalai,
menunjukan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat Propinsi
Kepulauan Bangka Belitung tetap merupakan kelurga besar komunitas
(serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan
kesejahteraan , kemakmuran, keadilan dan perdamaian.
Untuk mewujudkan perjuangan tersebut,
dengan budaya masyarakat melayu berkumpul, bermusyawarah, mufakat,
berkerjasama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan
(sebalai) merupakan wahana yang paling kuat untuk dilestarikan dan
dikembangkan. Nilai- nilai universal budaya ini juga dimiliki oleh
beragam etnis yang hidup di Bumi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dengan demikian,
Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Propinsi
Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan citacitanya untuk tetap
menjadi keluarga besar yang dalam perjuangan dan proses kehidupannya
senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan
mufakat serta berkerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk
mencapai masyarakat adil dan makmur.
Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.
Nilai Budaya
Seni Budaya
yang berkembang di wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini
sangat beragam dan menggambarkan keanekaragaman suku bangsa dan agama.
Yang merupakan kekayaan seni budaya di Bangka Belitung berupa Seni Tari,
Seni Drama, Seni Musik, Interior bangunan dan upacara-upacara adat.
Produk Budaya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
Produk budaya di Bangka Belitung diantaranya yaitu :
Seni tari di pulau Bangka; Tari Campah, Tari Kedidi, Tari Tabar, Tari lapin, Tari Melimbang Timah.
Di
Pulau Belitung berkembang tari Nusor Tebing, tari Bitiong dan tari
Randau. Seni drama antara lain, drama putri Sri Rinai dan Dul Muluk.
Seni Musik antara lain, Bedindak Bedaeh, Lagu Yak Miak, Icak-icak Dek Tau.
Seni Interior yang khususnya di Bangka dan Belitung di pengaruhi oleh gaya arsitektur Cina.
Upacara-upacara Adat :
Upacara-upacara adat yang menjadi khasanah budaya Bangka Belitung
antara lain: Perang Ketupat, Nnirok Nanggak dan Tuang Jong dan Nganggung
serta Kawin Massal.
Kerajinan Khas Bangka : Kerajinan Khasnya yaitu : Kopiah resam dan Kain Cual.
Falsafah Hidup Masyarakat setempat :
Serumpun Sebalai,
adalah suatu bentuk etika kehidupan keseharian masyarakat Bangka
Belitung yang rukun damai dan dalam hubungan kekeluargaan walaupun
terdiri dari bermacam-macam etnis dan agama.
Jangan Dak Kawa Nyusa Aok, artinya dalam setiap keberhasilan memerlukan kerja keras.
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi LAMPUNG : Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
Nama Resmi | : | Provinsi Lampung |
Ibukota | : | Bandar Lampung |
Luas Wilayah | : | 34.623,80 Km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 8.711.511 Jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Lampung (Sebatin dan Pepadun) |
Agama | : | Islam : 92 %, Kristen Protestan : 1,8 %, Katolik : 1,8 %, Budha 1,7 %, dll 2,7 % |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 12, Kota : 2, Kec.: 206, Kel.: 174, Desa : 2.249 *) |
Lagu daerah | : | Gambus dan Kulintang Lampung |
Website | : | http://www.lampungprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Penduduk
asli Lampung berasal dari keturunan Batak, Banten, dan Cina. Sejak abad
XIII Lampung telah berhubungan dengan Cina dan India (Pelabuhan
Internasional Teluk Lampung/Way Ratai). Tahun 1511 Lampung telah
dimasuki Portugis hingga 1518, selanjutnya Lampung berada di bawah
kesultanan Banten. Tahun 1808 jatuh ketangan Belanda kemudian oleh
Inggris tahun 1817 dan tahun 1856 Perang Lampung berakhir, namun
kolonialisme Belanda tetap berlanjut hingga tahun 1949 diselingi Jepang
pada tahun 1942.
Arti Logo

Bentuk Perisai dengan Pita menjurai menjurai bertuliskan Sang Bumi Ruma, serta Akasara Lampung, gambar Daun dan buah Lada, Payung dan Gong.
Perisai persegi lima Kesanggupan mempertahankan cita dan membina pembangunan rumah tangga yang didiami oleh unsur golongan masyarakat untuk mencapai masyarakat makmur, adil berdasarkan Pancasila.
Pita Sang Bumi Ruwa Jurai Sang
Bumi = Rumah Tangga Agung yang berbilik-bilik. Ruwa Jurai = dua unsur
golongan masyarakat yang berdiam di wilayah Provinsi Lampung.
Aksara Lampung berbunyi : “LAMPUNG�?
Daun Lada 17 lembar, melambangkan tanggal 17, buah lada 8 biji melambangkan bulan Agustus,
Setangkai padi berjumlah 45, melambangkan
tahun 1945. Dengan demikin daun lada, buah lada dan setangkai padi
melambangkan hari kemerdekaan pada tanggal 17-8-1945.
Biji Lada 64, melambangkan terbentuknya Provinsi Lampung tahun 1964.
Laduk, melambangkan Golok rakyat serba guna.
Payam, melambangkan Tumbak pusaka tradisional.
Gong, melambangkan alat seni budaya, sebagai pemberitahuan dimulainya karya besar dan sebagai alat menghimpun masyarakat untuk bermusyawarah.
Siger, melambangkan mahkota keagungan adat budaya dan tingkat kehidupan terhormat.
Payung, Jari payung 17, bagian ruas tepi 8 garis batas, ruas 19 dan rumbay payung 45,
melambangkan Negara RI diproklamasikan tanggal 17-08-1945. Kemudian
payung jurai yang melambangkan Provinsi Lampung tempat semua jurai
berlindung. Tiang dan bulatan puncak payung melambangkan satu cita
membangun bangsa dan Negara RI dengan ridho Tuhan Yang Maha Esa.
Warna.
Hijau melambangkan dataran tingggi yang subur untuk tanaman musim.
Coklat melambangkan Dataran rendah yang subur untuk sawah dan ladang.
Biru melambangkan Kekayaan sungai dan lautan yang merupakan sumber perikanan dan kehidupan para nelayan.
Putih melambangkan Kesucian dan keikhlasan hati masyarakat.
Kuning tua, muda, emas melambangkan Keagungan dan kejayaan serta kebesaran cita dan masyarakat untuk membangun daerah dan negaranya.
Nilai Budaya
Upacara adat yang masih dilestarikan :
Upacara Kuruk Limau : Upacara tujuh bulanan
Upacara adat kematian.
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi SUMATERA SELATAN : Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
Nama Resmi | : | Provinsi Sumatera Selatan |
Ibukota | : | Palembang |
Luas Wilayah | : | 91.592,43 Km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 8.321.592 Jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Palembang, Komering, Pasemah, Ranau, Semendo dll. |
Agama | : | Islam: 96 %, Kristen: 1,7 %, Budha: 1,8 %, ain-lain: 0,5 % |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 11, Kotamadya: 4, Kec.:223, Kel.:371, Desa : 2.755 *) |
Lagu Daerah | : | Dek Sangke |
Website: | : | http://www.sumselprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Sejarah
Sumatera Selatan memiliki keterkaitan dengan sejarah Riau dan sejarah
kerajaan-kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu. Hal ini sangat logis bila
dihubungkan dengan perkembangan bangsa Deutro-Melayu di daerah ini.
Keturunan Deutro-Melayu ini telah menghuni kawasan tersebut sejak
tahun 300 SM. Mereka menggeser kedudukan bangsa Proto Melayu yang
datang ke sana sekitar 2.000 tahun sebelumnya.
Karena
letaknya yang strategis bagi dunia pelayaran, ditambah dengan kekayaan
alamnya yang berlimpah, Sumatera Selatan banyak dikunjungi oleh
pedagang-pedagang asing, terutama dari Arab, India dan Cina, sejak awal
tarikh Masehi. Maka tidak mengherankan jika masyarakat Sumsel cepat
berkembang dan kemudian melahirkan sebuah kerajaan besar yang bernama
Sriwijaya.
Para
ahli sejarah sependapat bahwa Kerajaan Sriwijaya tumbuh, berkembang
dan mengalami masa kejayaannya selama berabad-abad antara abad ketujuh
sampai abad ke-12. Sriwijaya menghasilkan sendiri komoditi penting pada
masa itu, seperti lada dan timah. Daerah yang banyak menghasilkan lada
adalah daerah sepanjang Sungai Kampar, Kuantan, Singingi (Riau) dan
Batanghari (Jambi). Timah didatangkan dari daerah Kedah (Malaysia) dan
Tapung Petapahan di hulu Sungai Siak (Riau). Selain itu Sriwijaya juga
menjual emas yang berasal dari Sungai Kuantan dan Singingi.
Barang-barang
ini menarik para pedagang dari Barat dan Timur untuk berlomba-lomba
berdagang dengan Sriwijaya. Bahwa kebesaran Sriwijaya tidak disangsikan
lagi, hal itu logis karena memang cukup banyak fakta sejarah yang
mendukungnya. Tetapi tidak demikian dengan persoalan lokasi pusat
kerajaan tersebut. Para ahli sejarah masih terus memperdebatkan masalah
ini.
Sejumlah
ahli sejarah berpendapat bahwa pusat kerajaan tersebut adalah
Palembang, di mana ditemukan banyak prasasti peninggalan Sriwijaya. Yang
lain meletakkannya di Teluk Bandon (sekarang wilayah Muangthai), di
Jawa, di Perak, di Jambi, dan di Muaratakus (Riau). Hal ini berdasarkan
pada rekonstruksi peta-peta yang menunjukkan nama-nama tempat yang
disebut dalam berbagai sumber asing dan catatan perjalanan para
pedagang raja zaman itu, di samping aneka cerita rakyat tentang Raja
Sriwijaya. Walaupun begitu, mungkin saja setiap versi masing-masing
memiliki kebenaran. Sebab sebagai negara maritim yang kaya dan dinamis
seperti Sriwijaya, berpindah-pindah ibukota dalam rentang waktu lebih
dari lima abad bukanlah suatu hal yang mustahil.
Perkembangan
pesat yang dialami Sriwijaya diperkirakan terjadi antara abad ke-ll
sambai abad ke-12. Ketika itu Sriwijaya, yang memiliki 13 negara
jajahan, meliputi seluruh wilayah Indonesia bagian barat dan seluruh
Semenanjung Melayu sampai ke sebelah selatan Teluk Bandon.
Tulisan-tulisan
yang berisi ajaran Budha yang ditemukan di Pasir Panjang, ujung utara
Pulau Karimun (Kepulauan Riau), memberikan petunjuk bahwa daerah
tersebut merupakan pos terdepan Sriwijaya untuk mengawasi jalur
pelayaran di mulut Selat Melaka. Di atas prasasti itu ditemukan tiga
telapak kaki kiri berukuran raksasa. Telapak kaki kanannya dalam ukuran
yang sama ditemukan di suatu tempat di Singapura.
Telapak
kaki tersebut melukiskan Sang Budha yang menguasai dunia sedang berdiri
menghadap ke utara, dengan kaki kiri berpijak di Pasir Panjang dan kaki
kanan di Pulau Singapura. Maka kapal-kapal yang melalui Selat Melaka
akan berada di bawah kangkangannya. Hal ini merupakan gimbal besarnya
kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu berpusat di
Muaratakus.
Dalam
puncak kejayaannya Sriwijaya merupakan pusat perdagangan internasional
dan pusat pengajaran agama Budha di Asia Tenggara. Keadaan seperti itu
berlangsung sampai datang serangan dari Kerajaan Siam pada tahun 1292,
Kerajaan Melayu-Jambi yang telah dikuasai Kerajaan Singosari sejak
tahun 1275. Sejak itu masa kejayaan Sriwijaya mulai pudar.
Setelah
Sriwijaya runtuh akibat serangkaian invasi tersebut, para anggota
keturunan dinasti Sailendra berusaha untuk menghidupkan kembali
kebesaran tahta leluhur mereka dengan mendirikan kerajaan-kerajaan
baru. Salah seorang di antaranya adalah Sang Sapurba, yang meninggalkan
Palembang untuk mencari bantuan dari beberapa kerajaan kecil bekas
mandala Sriwijaya.
Menurut Sejarah Melayu, rombongan
Sang Sapurba berangkat dari Palembang sekitar akhir abad ke-13
menghilir Sungai Musi dan mendarat di Kerajaan Tanjungpura. Di sana
salah seorang putranya dikawinkan dengan putri penguasa setempat dan
kemudian dinobatkan sebagai raja. Setelah itu Sang Sapurba pergi ke
Bintan, dan di sana ia juga mengawinkan lagi seorang putranya dengan
putri raja Bintan. Tujuannya mengawinkan putra-putranya dengan putri
raja-raja setempat adalah untuk menghidupkan kembali imperium
leluhurnya.
Arti Logo

Atap rumah Sumatera Selatan berujung 17, dengan delapan baris dan empat puluh lima buah genteng, bunga teratai, batang hari sembilan, adalah lambang hari kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Bunga Teratai, adalah lambang keadilan berdasarkan Pancasila.
Batang Hari Sembilan, nama lain Sumatera Selatan adalah lambang kemakmuran.
Jembatan Ampera, adalah lambang kemajuan dan ciri khas kota Palembang.
Gunung, adalah lambang keperkasaan.
Nilai Budaya
Provinsi
Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang secara
potensial memiliki kekayaan budaya sejak zaman Sriwijaya, ketika
daerah ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan
kebudayaan. Sesuai arah perkembangannya, sehingga menjadi salah satu
pusat kebudayaan serta daerah tujuan wisata di Indonesia. Upaya
pelestarian dan pengembangannya melalui pendidikan yang mengandung
budaya daerah bernilai tinggi.
Sikap
budaya masyarakat dapat dilihat dari berbagai hasil budaya masyarakat
atau kegiatan mereka dalam berbagai dimensi kehidupan, antara lain penyelenggaraan
upacara adat, misalnya upacara perkawinan, dengan bahasa dan logat khas
Sumatera Selatan seperti yang selama ini dilakukan, merupakan kegiatan
yang perlu terus dipertahankan dalam upaya melestarikan bahasa daerah.
Dalam
kenyataan hidup sehari-hari, pembauran antar etnis telah menjadi salah
satu bagian kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.
Falsafah Hidup Masyarakat Setempat
- Bersatu Teguh
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi JAMBI : Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
Nama Resmi | : | Provinsi Jambi |
Ibukota | : | Jambi |
Luas Wilayah | : | 50.058,16 km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 3.390.682 jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Melayu, Kubu, Kerinci, dll. |
Agama | : | Islam: 98,4%, Kristen: 1,1%, Budha: 0,36%, Hindu : 0,117% |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 9, Kota : 2, Kec.: 128, Kel.: 153, Desa : 1.253 *) |
Lagu Daerah | : | Injit-injit Semut dan Pinang Muda |
Website: | : | http://www.jambiprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Pada akhir abad ke XIX di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan
kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu
(Putra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan
Pemerintahan Kerajaan.
Wilayah
administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah sebagaimana
tertuang dalam adagium adat "Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam
Rajo" yang artinya : Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sembilan lurah
yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yaitu daerah
teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.
Secara geografis keseluruhan daerah Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni :
- Daerah Huluan Jambi : meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.
- Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu
peraturan pemerintahan desa di luar Jawa dan Madura, di Jambi sudah
dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang
diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga
dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pemerintahan umum,
pengadilan, kepolisian, dan sumber keuangan.
Pemerintahan
marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang
juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga
juga memimpin pengadilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan
sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah pemerintahan marga
terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh penghulu atau kepala
dusun atau Kepala Kampung.
Pada
masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur
pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu
karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu:
Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur,
Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat,
Karesidenan Palembang, Karesidenan Bengkulu, Karesidenan Lampung, dan
Karesidenan Bangka Belitung.
Khusus
Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam pemerintahannya
dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten
residen dengan mengkoordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
Arti Logo

Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila.
Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
Nilai Budaya
Berdasarkan
cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan "jambe" yang
berarti "pinang". Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang
hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.
Penduduk
asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain
Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan
Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas
dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar
pinggiran sungai Batanghari.
Suku
Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena
telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain.
Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau
yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang
menyatakan bahwa suku ini merupakan keturunan dari percampuran suku
Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai suku Weddoid.
Orang
Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan "jinak"
diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tempat
tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Sedangkan
yang disebut "liar" adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan
dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok
tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
Suku-suku
bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola
yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa
larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa
dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.
Strata Sosial masyarakat
di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem
pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak
pernah terdengar istilah-istilah atau gelar-gelar tertentu untuk
menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal
sebutan-sebutan yang "kabur" untuk menunjukkan status seseorang, seperti
orang pintar, orang kaya, orang kampung dsb.
Pakaian Pada
awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain
dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi
dengan berbagai kebudayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum
wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala
sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah
ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna
hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan
sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.
Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.
Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.
Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi RIAU: Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
Nama Resmi | : | Provinsi Riau |
Ibukota | : | Pekanbaru |
Luas Wilayah | : | 87.023,66 Km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 5.860.250 jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Melayu, Minangkabau, Bugis, Makasar, Jawa, Banjar, Batak, Mandailing, Suku Asli (Sakai, Talang Mamak, Suku Laut, Kualam Bonai, Akit). |
Agama | : | Islam : 4.647.864 jiwa, 88 %, Kristen Protestan : 1.848 jiwa, 1 %, Katholik : 282.000 jiwa, 5 %, Budha : 296.222 jiwa, 6 %, Hindu : 10.768 jiwa, 0.2 %. |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 10, Kota : 2, Kec.: 154, Kel.: 203, Desa : 1.426 *) |
Lagu Daerah | : | Soleram dan Langgam Melayu |
Website: | : | http://www.riauprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Sejarah
Riau sebelum kemerdekaan lebih diwarnai riwayat kerajaan Melayu Islam,
dengan kerajaan terbesarnya Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kerajaan yang
berpusat di Kabupaten Siak ini didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rakhmad
Syah pada tahun 1725. Sultan pertama ini meninggal pada tahun 1746 dan
kemudian diberi gelar Marhum Buantan. Sepeninggal Marhum Buantan
tercatat ada sebelas sultan yang pernah bertahta di Kerajaan Siak Sri
Indrapura, yaitu:
- Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah (1746-1765). Dengan memerintah selama lebih kurang 19 tahun, Sultan kedua ini berhasil membangun Kerajaan Siak Sri lndrapura menjadi kokoh dan kuat.
- Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766). Nama aslinya Tengku Ismail, hanya sempat memerintah selama setahun. Masa pemerintahannya datanglah serangan Belanda yang memanfaatkan Tengku Alam (selanjutnya menjadi Sultan ke empat) sebagai perisai. Sultan Abdul Jalil kemudian gugur dan digelari Marhum Mangkat di Balai.
- Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780). Sepeninggal Marhum Mangkat di Bali, Tengku Alam menduduki tahta kerajaan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Meninggal pada tahun 1780 dengan gelar Marhum Bukit.
- Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muzzam Syah(1780-1782). Pada masa pemerintahannya Kerajaan Siak berkedudukan di Senapelan atau Pekanbaru sekarang. Beliau pula yang merupakan pendiri kota' Pekanbaru, sehingga setelah meninggal pada tahun 1782 digelari Marhum Pekan.
- Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1782-1784). Seperti sultan sebelumnya, Sultan Yahya juga hanya sempat 2 tahun memerintah. Meninggal pada tahun 1784 dan digelari Marhum Mangkat di Dungun.
- Sultan Assayaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810). Sultan ketujuh ini merupakan Sultan Siakpertama yang berdarah Arab dan bergelar Sayed Syarif Pada masa pemerintahannya Kerajaan Siak mencapai puncak kejayaannya. Meninggal pada tahun 1810 dan digelari Marhum Kota Tinggi.
- Sultan Assayaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815). Sultan yang bernama asli Ibrahim ini meninggal pada tahun 1815 kemudian digelari dengan Marhum Mempura Kecil.
- Sultan Assayaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854). Nama aslinya tengku Sayed Ismail dan setelah meninggal digelari Marhum Indrapura.
- Sultan Assayaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Syarif Kasyim 1,1864-1889). Meninggal tahun 1889, dan digelari Marhum Mahkota.
- Sultan Assayaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Muzaffar Syah (1889-1908). Atas jasa dan usaha Sultan inilah pembangunan gedung-gedung yang kini menjadi peninggalan Kerajaan Siak. Meninggal pada tahun 1908 dan digelari Marhum Baginda.
- Sultan Assayaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Syarif Kasim II, 1915-1949). Sultan yang bernama asli Tengku Sulong ini baru naik tahta setelah 7 tahun ayahandanya Sultan Hasyim meninggal, sekaligus menjadi sultan terakhir Kerajaan Siak Indrapura. Karena pada bulan Nopember 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirim kawat kepada Presiden Republik Indonesia yang menyatakan kesetiaannya kepada Pemerintah Republik Indonesia. Tidak hanya itu, Sultan juga menyerahkan harta bendanya untuk perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Arti Logo

Mata Rantai tak terputus yang
berjumlah 45, adalah lambang persatuan bangsa dan diproklamirkan pada
tahun 1945, yaitu tahun Proklamasi Republik Indonesia.
Padi dan Kapas adalah lambang kemakmuran (sandang pangan), padi 17 butir dan 8 Bunga Kapas merupakan tanggal Proklamasi 17 bulan 8 (Agustus).
Lancang Kuning mengandung, adalah
lambang kebesaran Rakyat Riau, sedang sogok Lancang berkepala ikan
melambangkan bahwa Riau banyak menghasilkan Ikan dan mempunyai
sumber-sumber penghidupan dari laut. Gelombang lima lapis melambangkan
Pancasila sebagai Dasar Negara, Republik Indonesia.
Keris berhulu Kepala Burung Serindit, adalah lambang Kepahlawanan Rakyat Riau berdasarkan pada kebijaksanaan dan kebenaran.
Nilai Budaya
Dalam
tradisi Melayu, ada semacam ungkapan "Adat Bersendikan Syarak, dan
Syarak Bersendikan Kitabullah". Hal ini menyiratkan bahwa secara
langsung atau tidak tradisi kebudayaan melayu tetap berpegang teguh pada
ajaran Islam.
Adat
dalam Melayu sangat diutamakan dan menjadi ukuran derajat seseorang.
Orang yang tidak tahu adat atau kurang mengerti adat dianggap sangat
memalukan dan dapat dikucilkan dari kelompok masyarakat. Ungkapan atau
cap kepada mereka yang "tak tabu adat" atau "tak beradat". Begitu
pentingnya sehingga timbul ungkapan lain, "Biar mati Anak, jangan mati
Adat". Ungkapan lainnya adalah: "Biar mati Istri, jangan mati Adat".
Semua ungkapan ini Menunjukan betapa adat-istiadat dalam masyarakat
Melayu sangat dijunjung tinggi.
"Tak
kan Melayu hilang di bumi", adalah keyakinan masyarakat Melayu Riau
akan tradisi dan budayanya. Kalimat ini diucapkan secara turun-temurun
dan telah mendarah-daging bagi orang Melayu.
Sifat
masyarakat Melayu yang terbuka menyebabkan terbentuknya tradisi yang
majemuk. Tradisi luar masuk ke Kepulauan Riau sejak zaman Kerajaan
Sriwijaya, saat mana budaya Melayu Kuno telah bercampur dengan tradisi
Hindu dan Budha.
Akibat
perdagangan antar daerah yang berlangsung selama puluhan tahun, masuk
pula tradisi Bugis, Banjar, Minang, Jawa dan lain-lain. Semasa masuknya
Portugis ke Melaka, datang pula tradisi Sunda mewarnai tradisi Melayu
Riau.
Kesenian
merupakan salah satu unsur kebudayaan Melayu Riau yang paling menonjol,
meliputi seni sastra, seni tari, seni suara, seni musik, seni rupa dan
seni teater. Seni sastra Riau terdiri dari sastra tulis (berupa syair,
hikayat, kesejarahan, kesatraan, adat istiadat dan lain-lain) dan sastra
ligan seperti pantun (pepatah, petitih, peribahasa, bidal, perumpamaan
dan lain-lain), mantra cerita rakyat, koba, kayat dan nyanyi panjang.
Karya seni sastra paling terkenal adalah Gurindam Dua Belas hasil karya
Raja Ali Haji.
Bahasa
yang digunakan sehari-hari oleh penduduk adalah bahasa Melayu, yang
pada hakikatnya merupakan akar bahasa Indonesia. Sehingga siapa saja
yang bisa berbahasa Indonesia dapat berkomunikasi dengan orang Riau. Di
beberapa lokasi ada juga penduduk yang menggunakan bahasa daerah
asalnya, seperti bahasa Minang di pasar-pasar yang banyak dihuni
pedagang asal Minang, atau bahasa Jawa di desa-desa yang banyak
penduduknya berasal dari Jawa.
Upacara
Perkawinan di Riau ditandai dengan berbagai acara, seperti : Merisik,
Meminang, Menggantung, Malam Berinai, Akad Nikah, Tepung Tawar, Berinai
Lebai, Berandam, Berkhatam Qur'an, Hari Lansung/Bersanding, Makan
Bersuap-suapan, Makan Hadap-hadapan, Menyembah Mertua, Mandi Damai,
Mandi Taman dan Mengantuk atau Mengasah Gigi.
Wujud
kebudayaan Melayu di Provinsi Riau sendiri sangat majemuk. Karena letak
geografisnya yang sejak dulu merupakan jalur lintas perdagangan
internasional memberi peluang terjadinya kontak budaya antara penduduk
Melayu dengan berbagai etnis lainnya.
Kontak budaya ini berlanjut dan berkembang menjadi pembauran kebudayaan sehingga terbentuk kebudayaan yang majemuk.
Upacara-upacara Adat
Selain Upacara Perkawinan, ada beberapa upacara adat yang berkembang di masyarakat Riau, yaitu:
- Upacara Betobo, adalah kegiatan bergotong royong dalam mengerjakan sawah, ladang, dan sebagainya.
- Upacara Menyemah Laut, adalah upacara untuk melestarikan laut dan isinya, agar mendatangkan manfaat bagi manusia.
- Upacara Menumbai, adalah upacara untuk mengambil madu lebah di pohon Sialang.
- Upacara Belian, adalah pengobatan tradisional.
- Upacara Bedewo, adalah pengobatan tradisional yang sekaligus dapat dipergunakan untuk mencari benda-benda yang hilang.
- Upacara Menetau Tanah, adalah upacara membuka lahan untuk pertanian atau mendirikan bangunan.
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Provinsi BENGKULU : Profil Sejarah Arti Logo Nilai Budaya
Nama Resmi | : | Provinsi Bengkulu |
Ibukota | : | Bengkulu |
Luas Wilayah | : | 19.919,33 Km2 *) |
Jumlah Penduduk | : | 1.830.869 Jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Suku Rejang, Suku Serawai, Suku Melayu, Suku Mukomuko, Suku Ketahun, Suku lembak, Suku Enggano, Suku Pasemah, Suku pendatang dll. |
Agama | : | Islam : 95,27 %, Kristen Protestaan : 3,59 %, Hindu : 0,73%, Budha : 0,41 % |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 9, Kota : 1, Kec.: 123, Kel.: 148, Desa : 1.300 *) |
Lagu Daerah | : | Lalan Balek |
Website: | : | http://www.bengkuluprov.go.id
*) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011
|
Sejarah
Nama Bengkulu diambil dari kisah perang melawan orang Aceh yang datang hendak melamar Putri Gading Cempaka,
yaitu Soak Ratu Agung Raja Sungai Serut Akan tetapi lamaran tersebut
ditolak sehingga menimbulkan perang. Suku Soak Dalam, adalah saudara
kandung Putri Gading Cempaka yang menggantikan Raja Sungai Serut, saat
terjadi peperangan berteriak “Empang ka Hulu-Empang ka hulu�?: yang
artinya hadang mereka (orang Aceh) jangan biarkan mereka menginjakkkan
kakinya ditanah kita . Dari kata tersebut lahirlah kata Bangkahulu atau
Bengkulu, bangsa Inggris menyebutkannya dengan Bencoolen.
Wilayah
Bengkulu telah didiami penduduk sejak zaman prasejarah, hal ini
ditunjukan dengan ditemukannya prasasti dibagian utara Bengkulu, yaitu
bangunan megalitik type dongson dibagian selatan Bengkulu.
Dalam
sejarah Bengkulu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yaitu : Selebar,
Sungai Serut, Empat Petulai, Indra Pura dan beberapa kerajaan lainnya.
Kerajaan Selebar merupakan salah satu kerajaan di Bengkulu yang telah melakukan perdagangan ke luar negeri yang ditandai adanya perjanjian dengan Perusahaan Hindia Timur Inggris pada tanggal 12 Juli 1685.
Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa Raja Selebar memberikan hak
kepada Inggris untuk membangun gudang dan benteng, hal ini merupakan
salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Selebar.
Pada
tahun 1712 Yoseph Collet diangkat menjadi Deputi Gubernur, ia meminta
izin untuk menggantikan benteng York dan membangun sebuah benteng baru
diatas karang, sebuah bukit kecil yang menghadap ke laut sekitar 2 Km
dari benteng York. Pada tahun
1714 dimulailah pembangunannya dan selesai pada tahun 1718. Yoseph
Colet menyebutnya benteng "Malborough" yang merupakan Duke Of Malborough
pertama yang diangkat menjadi pahlawan nasional setelah ia memenangkan
sejumlah pertempuran melawan Perancis dan musuh-musuh lainnya.
Pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles tahun 1818 – 1824 Bengkulu menjadi terkenal.
Pada Tahun 1825 Inggris yang menguasai Bengkulu melakukan tukar menukar dengan Belanda yang menguasai Malaysia dan Singapura. Belanda selanjutnya menempati benteng Malborough sampai perang dunia II yang pada akhirnya semua wilayah Sumatera diduduki tentara Jepang sampai Jepang menyerah kalah pada tahun 1945. Setelah kemerdekaan RI tahun 1945 benteng tersebut digunakan oleh TNI dan polisi sampai tahun 1970. Setelah kemerdekaan RI Bengkulu merupakan salah satu Keresidenan di Provinsi Sumatera Selatan, baru pada tahun 1968 Bengkulu terwujud menjadi Provinsi yang berdiri sendiri dan lepas dari Provinsi Sumatera Selatan.
Arti Logo

Lambang Daerah Provinsi Bengkulu terdiri atas 3 (tiga) bagian yaitu : Berbentuk tameng. Ditengah-tengah
terdapat tameng kecil yang di dalamnya berisikan setangkai padi dan
setangkai kopi bersama daunnya. Sedangkan ditengah-tengahnya terdapat
bunga Rafllesia, rudus, cerana dan bintang baser. Sebuah pita dengan bertuliskan : "BENGKULU".
Makna Warna di dalam Lambang sebagai berikut: Hijau : Kesuburan, Biru: Kemakmuran, Merah : Dinamika Kegembiraan, Ungu : Ketenangan kedamaian, Kuning : Kejayaan.
Warna hijau
di atas tameng mencerminkan daerah pegunungan Bukit Barisan dengan
tanahnya yang subur sebagai batas tanah daerah Provinsi Bengkulu sebelah
Timur, warna biru berombak dengan 18 (delapan belas) gelombang berarti
Laut dengan sumber kekayaan sebagai batas daerah Propnsi Bengkulu
sebelah Barat.
Dalam tameng kecil terdapat Disebelah
kiri setangkai padi yang berwarna kuning. Buah padi bercelah 17 (tujuh
belas) butir melambangkan tanggal 17. Disebelah kanan terdapat setangkai
bunga kopi berwarna putih dan
buah kopi berwarna hijau, bunga kopi berwarna putih dan buah kopi
berjumlah 8 (delapan) melambangkan bulan Agustus. Tulang daun kopi bagian atas berjumlah 4 (empat) garis.
bagian bawah berjumlah 5 (lima) garis melambangkan tahun 1945, arti
keseluruhannya HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA ( 17 - 8 - 1945 ).
Garis gelombang 18 (delapan batas) melambangkan tanggal 18, Daun kopi berjumlah 11 (sebelas) helai melambangkan bulan November, Bunga kopi setiap tangkai berjumlah 6 (enam) dan buah kopi setiap tangkai berjumlah 8 (delapan).
Arti keseluruhannya adalah hari kelahiran Provinsi Bengkulu (18 November 1968).
Buah Padi dan Kopi mencerminkan hasil utama di bidang pertanian dan perkebunan.
Bunga raflesia Arnoldi sebagai suatu keistimewaan alam dearah Provinsi Bengkulu.
Bingkai berwarna emas yang mengitari Lambang melukiskan salah satu sumber mineral di daerah Provinsi Bengkulu.
Cerana melukiskan kebudayaan rakyat.
Rudus 2 (dua) buah melambangkan kepahlawanan.
Bintang besar dipertemuan ujung padi dan kopi melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Nilai Budaya
Kain bersurek, merupakan kain bertuliskan huruf Arab gundul.
Kepercayaan, pada umumnya masyarakat di Provinsi Bengkulu 95 % lebih menganut agama Islam.
Upacara Adat, banyak
dilakukan masyarakat di Provinsi Bengkulu seperti, sunatan rasul,
upacara adat perkawinan, upacara mencukur rambut anak yang baru lahir.
Upacara Adat
Salah satu upacara tradisional di Kota Bengkulu adalah upacara “TABOT" yaitu suatu perayaan tradisional yang dilaksanakan dari
tanggal 1 sampai dengan tanggal 10 Muharam setiap tahunnya untuk
memperingati gugurnya Hasan dan Husen cucu Nabi Muhammad SAW oleh
keluarga Yalid dari kaum Syiah, dalam perperangan di Karbala pada tahun
61 Hijriah.
Pada perayaan TABOT tersebut dilaksanakan berbagai pameran serta lomba ikan-ikan, telong-telong serta
kesenian lainnya yang diikuti oleh kelompok-kelompok kesenian yang ada
di Provinsi Bengkulu sehingga menjadikan ajang hiburan rakyat dan
menjadi salah satu kalender wisata tahunan.
Falsafah hidup masyarakat setempat
Sekundang setungguan
Seio Sekato.
Bagi
masyarakat Bengkulu pembuatan kebijakan yang menyangkut kepentingan
bersama yang sering kita dengar dengan bahasa pantun yaitu :
Kebukit Samo Mendaki, Kelurah Samo Menurun, Yang Berat Samo dipikul, Yang Ringan Samo Dijinjing, artinya dalam membangun, pekerjaan seberat apapun jika sama-sama dikerjakan akan terasa ringan juga.
Bulek Air Kek Pembuluh, Bulek Kata Rek Sepakat, artinya bersatunya air dengan bambu, bersatunya pendapat dengan musyawarah.
Lihat Selengkapnya Beri Komentar
Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below▼
▼